16 November 2009

Menikmati Tari Perut bersama Sang Penari

Keindahan dari Kairo
.


Bagi orang Mesir, tarian erotis ala Si Ratu Ngebor Indonesia Inul Daratista, bukanlah barang baru. Sejak berabad-abad lamanya, tari perut, dengan segala muatan erotisme-nya, telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat.

Tari perut dianggap sebagai warisan budaya leluhur Mesir Kuno yang harus dilestarikan. Pemerintah Mesir menjadikannya sebagai salah satu komoditas wisata yang bernilai tinggi. Karena itu, penghargaan bagi para penari terbaik, selalu diberikan. Raja Farouk, penguasa Mesir tahun 1936-1952, sering memberikan penghargaan dan gelar istimewa bagi penari-penari terbaik Mesir di masanya. Begitu juga Napoleon Bonaparte, penguasa Mesir berkebangsaan Perancis akhir abad 18, selalu memberikan perlakuan khusus dalam melindungi para penari perut dari gangguan orang-orang iseng.

Kini, tari perut sangat mudah kita temukan di Mesir, seperti mudahnya mencari Warteg di Jakarta. Dengan uang 100 hingga 130 Pound (sekitar 120 – 150 ribu rupiah), kita bisa duduk santai selama 2 jam, di atas kapal, diiringi lagu-lagu Arab dan Barat suguhan sekelompok pemusik. Di antara lagu yang dimainkan itu, tiba-tiba hadir tubuh semampai seorang penari yang menampilkan tari perut nan indah. Hampir 20 menit, tubuh indah itu meliuk-liuk. Sambil menikmati hidangan makan malam, kita dapat melihat hamparan lampu-lampu kota Kairo

Disini anda akan mendapatkan hiburan langsung dari pemilik Blog Belly Lorna. Blog ini diasuh langsung oleh seorang Penari Perut dari Mesir yang bernama Lorna Gow. Lahir di Edinburg, Skotlandia dan hidup disana sampai tahun 1997. Kemudian, dia menjadi seorang Penari perut professional di kota Kairo, Mesir sejak bulan Maret 2006.

Lorna Gow sekarang ini tinggal disebuah Flat di Kota Kairo, Mesir. Dia menjadi guru private untuk setiap pertunjukan pada kapal Laut Nile Pharaoh. Lorna membuat blog ini sebagai salah satu observasi dia dalam menyesuaikan kehidupan, kerja dan karir nya di Kota Kairo. Dimana Kairo menurut dia adalah Kota tempat bertemunya masyarakat, budaya, musik, tari dan “Kota ini adalah kota yang gila.“

No comments:

Post a Comment

Add this